Friday, 14 March 2014

Rindu Bertamu ke Rumah-Mu


Rindu Bertamu ke Rumah-Mu
Oleh. Ning Sehati

“Kejarlah sesuatu yang mengangkat derajatmu di dunia dan menyelamatkanmu di akherat”

Buliran air mata masih saja menggenang di kedua pelupuk mata yang mulai terasa letih melayan malam. Peristiwa semalam (baca, kemarin) begitu menggetarkan kalbu. Ia masih terkesan dalam hati. Begitu mendalam, seolah seumur hidupku nanti tak akan terlupa. Sebuah peristiwa yang tak terencana olehku, namun sangat kuyakini bahwa itu adalah bagian dari skenario yang indah, matang dan sempurna yang telah Allah rancang untukku, hamba-Nya yang dhaif ini. Sebuah peristiwa yang berada dibawah kendali dan kuasa-Nya, yang mungkin bagi orang lain adalah hal biasa, tapi tidak bagiku. Diberi kesempatan untuk menjadi hamba terpilih -satu-satunya wartawan yang hadir meliput acara pelepasan calon jama’ah umroh- adalah sebuah berkah dan karunia. Sujud syukur tak henti kupanjatkan kehadirat-Nya, Allah Yang Maha Mengetahui.

Sejenak kucoba pejamkan indra penglihatanku dari sekelebat bayang mentari yang mulai datang menyapa malu-malu di ufuk timur. Bukan untuk melelapkannya, bukan, karena waktu beraktifitas telah tiba. Terbayang wajah-wajah takjub mereka, para jama’ah. Kubayangkan juga diriku ada bersama diantara rombongan. Diantara jutaan manusia dari berbagai belahan penjuru dunia. Diantara hitam dan putih warna kulit mereka. Diantara tinggi dan rendah postur tubuh mereka. Juga diantara berbagai riuh lantang talbiyah mereka…

Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syariika laka

Ya, tak henti bibirku basah melantunkan kegembiraan hati karena pada akhirnya aku mampu datang jauh dari nusantara untuk memenuhi panggilan-Nya, undangan-Nya… Sebuah kehormatan… sekali lagi… sebuah kehormatan mampu menginjakkan kaki di dua negeri yang kelak terjaga dari masuknya fitnah Dajjal Al-Masih. Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwaroh.

Beep… beep…

Sebuah pesan whatsApp masuk ke ponselku. Seketika anganku buyar berhamburan. Ah… sedikit kecewa, kuusap air mata yang membanjiri wajah yang kian kusut dimakan usia ini. Kecewa karena kesadaran ini seolah terlambat datang menyapa.

Tapi, aku lantas ingat kemarin sempat ngobrol dengan seorang ibu, yang usianya malah sekitar dua kali lipat usiaku dan telah bekerja pada satu majikan yang sama selama enam belas tahun. Ketika kutanyakan mengapa baru sekarang pergi, dengan ringan beliau menjawab,

“Alhamdulillah, tugas Ibu membekali anak-anak dengan ilmu yang bermanfaat telah selesai, kini mereka sudah waktunya mencari ‘pangan’ sendiri-sendiri.”

Sungguh mulia perjuangannya. Kalaupun baru sekarang diberi kesempatan pergi, bukan karena beliau tak rindu pada Sang Khaliq, melainkan karena menunaikan kewajiban sebagai orang tua. Sebuah pelajaran berarti untukku. Ehmmm…

Ada juga teman lain yang sempat ngobrol. Di usia yang sudah masuk kepala tiga, masih juga menyandang status ‘jomblo’. Dan sebuah pertanyaan klasik pun kuajukan kepada si embak yang anggun dalam balutan busana lebarnya.

“Apa nggak pingin berangkatin orang tua dulu, ukthy… seperti kebanyakan cita-cita teman-teman lain?”

“Kalau saya justru ingin pergi dulu, dan begitu sampai sana, saya akan berdoa semoga Allah perkenankan saya datang kembali ke rumah-Nya di lain hari bersama keluarga saya, orang tua dan suami,” ujar si embak sambil tersenyum malu-malu.

“Aamiin… in syaa Allah…” aku tersenyum haru.

Anak yang sholehah, betapa bahagia kedua orang tuanya.

Yang lebih menarik perhatianku adalah hadirnya seorang anak yang hampir seumur dengan putri kecilku. Ah, sekecil itu sudah diberi kesempatan datang bertamu ke rumah Penciptanya. Pasti kedua orang tuanya khusyuk berdoa selama ini. Aku jadi terinspirasi untuk membawa serta putriku, kelak, satu hari nanti, kesana… Tak dapat kubayangkan bagaimana bahagianya aku sebagai seorang ibu bila bisa menguatkan keimanan anak sejak dini sekali, menunjukkan padanya betapa tergantungnya dunia pada ibadah umat muslim yang satu ini. Menjaga jagad raya bisa tetap berputar stabil 360 derajat dengan berthawaf berlawanan arah jarum jam.

***

Tak ada yang kebetulan di dunia ini, melainkan semua telah dirancang dengan begitu sempurna oleh-Nya. Ketika beberapa hari sebelumnya, aku juga mendapat sebuah kejutan, hadiah istimewa, bisa terpilih bersama sekitar empat puluh peserta lain. Dalam suatu kesempatan tour Islami, diberi kesempatan mendapat tausiyah dari seorang ustadz pemilik usaha biro haji dan umroh, membuat semangatku untuk dapat melaksanakan rukun Islam ke lima ini semakin mantab saja. Mendengar cerita-cerita beliau tentang kisah-kisah inspiratif para jama’ah, semakin meyakinkanku bahwa pada dasarnya semua hamba diberi peluang yang sama. Namun panggilan hanya akan ditujukan pada mereka yang benar-benar menguatkan azzam. Mendatangkan mereka ke rumah-Nya dengan segala kuasa-Nya, yang kadang tak mampu dinalar akal manusia. Subhanallah!

Mengingat sebuah pesannya, bahwa Allah Sang Maha Kaya, mintalah kepada-Nya yang ‘spektakuler’ jangan meminta yang nanggung, maka akupun mulai merombak doa-doa yang selama ini kupanjatkan. Ya, Allah Sang Maha Memberi. Tak satu-pun doa yang ditolak. Semua dikabulkan, meski tidak selalu cepat dan tepat seperti yang kita harapkan. Kadang bahkan diganti dengan yang lebih dari yang kita minta. Karena Allah tahu apa yang paling baik buat kita. Karena apapun rencana kita, tetap rencana Allah adalah yang paling sempurna.

***

Ya Allah, sungguh aku rindu berjumpa dengan-Mu. Meski kutahu betapa kotornya diri ini. Betapa kelamnya hari kemarinku. Betapa tak terkiranya maksiatku melupakan-Mu sekian tahun terakhir.

Ya Allah, sungguh aku rindu berjumpa dengan-Mu. Meski kusadari betapa ketakutan masih sering mengganggu pikiran. Takut akan balasan-Mu atas segala perbuatanku selama ini. Betapa cemasnya setiap kali membaca cerita-cerita yang menimpa para jama’ah. Betapa tak kan kuasanya aku menghindari kehendak-Mu.

Tapi Ya Allah… kerinduan yang semakin bertumbuh hebat di setiap detik ini, mengalahkan segala keraguan. Bukankah Engkau mengikut prasangka hamba-Mu? Bukankah Engkau tak melihat kelamnya masa lalu, melainkan seberapa kuat azzam hamba-Mu dalam memperbaiki diri?

Ya Allah, Illahi Rabbi… Ya Ghafur… Kau Maha Pemaaf, maka maafkanlah dosa-dosaku, dosa masa lalu, dosa hari ini dan juga dosa esok hariku… Ijinkanlah aku bersihkan diri dalam pertolongan dan bantuan-Mu… Ijinkanlah aku untuk memampukan diri… Ijinkanlah aku mencintai-Mu lebih dalam lagi… Ijinkanlah aku tetap teguh berjalan lurus diatas ketetapan-Mu… dan Ijinkanlah aku mati dalam rahmat-Mu

Ya Allah, Illahi Rabbi... Ya Muqit... Kau Maha Menjaga, maka jagalah aku dari segala kehinaan, jagalah lisanku dari bicara yang tak guna, jagalah telingaku dari mendengar yang tak bermanfaat, jagalah mataku dari membaca selain yang Engkau berkahi dan jagalah jari-jariku dari menulis selain tentang kaeagungan-Mu...

Ya Allah, Illahi Rabbi... Ya Matin... Kau Maha Teguh, maka teguhkanlah tekad ini, teguhkanlah keyakinan ini sebelum malaikat maut datang menjemput...

Kabulkan segala hajatku karena Engkau Al-Mujib... 

Entah bagaimana caranya, kupercayakan kepada kuasa-Mu sepenuhnya tanpa sedikit keraguan, cepat atau lambat, kan kuinjakkan juga kaki ini disana… dirumah-Mu… Baitullah… In syaa Allah… atas ijin-Mu... 

Karena jika mereka bisa, akupun harus bisa juga!

 Aamiin.



Senyum optimis penuh semangat terkembang dari bibirku. Mantap kuteguhkan satu amalan sebagai ibadah unggulan tuk mencari ridho-Nya yang bisa membuka jalan ke arah sana, seperti nasehat sang ustadz.



Kennedy Town, 12 Maret 2014
.



2 comments:

rakazho said...

aamiin ya Robbal 'alamiin,..smoga Allah mengabulkan.

Fitri Indriani said...

Aamiin ya Allah.mudah2n Allah memberiku jalan untk menapakkan kaki krmh_NYA

Post a Comment

 
;