Tuesday, 11 March 2014

Maafkan Cinta

Maafkan Cinta
 Oleh. Ning Sehati





Terpegun kumenatap tirus wajah lelaki muda ini. Terbaring tak berdaya dengan mata tertutup, meski tak begitu rapat, aku yakin dia tengah menahan derita. Hidungnya mancung, tulang wajah kekar menunjukkan keras sifatnya. Ada sedikit senyum tersungging dibibirnya. Sudah hampir satu jam aku berdiri disamping ranjangnya tapi belum juga dia terbangun. Kulirik SEIKO hitam putih yang melingkar dipergelangan tangan kananku, beberapa menit ke depan jam bezuk akan segera berakhir. Hatiku semakin diliputi keresahan. Apalagi pihak keluarga tak banyak membantu memuaskan rasa ingin tahuku tentang sakit Reza. Mereka hanya bilang kalau Reza mengalami demam yang tinggi sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit ini, dua hari lalu. Benar-benar buatku penasaran.

“Maaf, jam bezuk telah berakhir, silahkan anda keluar meninggalkan ruangan ini!” suara suster mengejutkanku. 

Ah, kenapa waktu begitu cepat melaju, belum puas rasanya hanya sekedar memandang fisik lemah Reza tanpa sepatah katapun keluar dari mulut kami. 'Ana pamit dulu ya, insha allah kita akan berjumpa lagi, akhy' bisikku kelu tak yakin. Terasa berat kaki melangkah meninggalkan kamar putih berukuran empat kali empat meter persegi ini. Terakhir sebelum melangkah keluar, masih sempat ku menoleh ke arah Reza. Dia masih terlelap. Ffffuuuuuiiiiihh... desahku lirih.

Tak hendak segera pergi, ku letakkan pantatku di kursi kayu panjang yang berada diluar kamar. Kepalaku tiba-tiba berdenyut tak karuan. ‘Ya Allah, jangan ambil nyawa Reza, dia masih terlalu muda untuk tinggalkan dunia, beri dia kesempatan untuk merasakan indahnya anugerah-Mu sedikit lebih lama lagi!’. Tak henti batinku melantunkan doa-doa kepada Sang Khaliq.

Suara lantunan adzan maghrib menyentak heningku. Tanpa banyak ragu, kali ini bergegas kuayunkan langkah mencari asal suara. Tepat dibelokan pintu keluar rumah sakit, ada sebuah mushola yang nampak asri. Beberapa sandal dan sepatu telah berjejer rapi di depan pintu masuk. Alhamdulillah diberi kesempatan berjama’ah, betapa rindunya diri ini melaksanakan ibadah wajib yang satu ini secara bersama seperti saat ini. Bertahun-tahun hidup di negeri orang, Hong Kong, hanya ada kesempatan berjamaah disaat pelaksanaan sholat Ied saja. Iqomat dikumandangkan, sesaat berusaha melupakan tentang Reza, ku coba untuk khusyuk ikuti imam yang memimpin.

Selesai salam, sholat dilanjut dengan zikir dan doa. Imam melanjutkan dengan mengucap salam serta sholawat kepada junjungan Baginda Rasulullah. Agaknya beliau hendak menyampaikan tauziyah. Segera kuhapus sisa-sisa air mata yang sempat membanjiri mukaku. Meski kurang konsentrasi tapi aku mencoba membujuk hati untuk memperhatikan setiap kalimat santun sarat nasehat yang keluar dari mulut lelaki paroh baya itu.

“Ingat ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, kematian adalah salah satu rahasia besar Allah. Malaikat pencabut nyawa sehari 70 kali datang melawat kita. Kematian begitu dekat dengan kita, bila sudah tiba waktunya, tak ada tempat untuk kita berlari sembunyi dan menghindar…”. 

Jiwaku begitu tersentak mendengar kalimat yang disampaikan dengan intonasi penuh ketegasan ini. Ya Allah, betapa bodohnya hamba-Mu ini yang masih saja tak mengindahkan berbagai peringatan. Masih saja hamba bermaksiat pada-Mu. Masih saja hamba duakan Engkau dengan membiarkan benih-benih cinta tumbuh pada seorang manusia yang bukan kekasih halal hamba. Astagfirullah hal adzim! Hamba telah berzina hati selama ini. Hamba lupa bahwa Engkau-lah yang harus hamba cintai. Hamba sering melalaikan-Mu dengan lebih banyak mengingat lelaki yang tidak sepantasnya bayangan dirinya bercokol dalam pikiran hamba. Hamba telah khilaf, Ya Rabb! Ampuni hamba... ampuni hamba... ampuni hamba...


***

Beberapa hari yang lalu, masuk inbok dari Yuni, sahabat Reza. Dia mengabarkan kondisi Reza yang tengah sakit keras. Sontak hatiku resah tak karuan, aku ingat terakhir komunikasi, kami sempat memanas karena aku ingin memutuskan hubungan terlarang ini setelah banyak belajar tentang ilmu agama di majlis taklim yang aku ikuti sejak kuputuskan untuk istiqomah menutup aurat dengan sempurna. Ya, apapun namanya berkhalwat adalah haram, jauh jarak membentang apalagi yang dekat depan mata.  Namun kini lelaki yang kukenal dan mulai menjalin keakraban lewat jejaring sosial facebook setahun yang lalu itu, tengah didera ujian sakit. Tanpa pikir panjang, kutemui majikan dan meminta ijin untuk pulang cuti ke tanah air selama sepekan. Dan tengah hari tadi aku mendarat di Bandara Kualanamu, Medan. Dengan bantuain sedikit informasi dari Yuni, berhasil juga kutemukan alamat rumah sakit umum kota tempat Reza dirawat. Kebimbangan yang terus mengikuti disepanjang perjalanan semenjak meninggalkan Hong Kong, masih saja terasa sampai malam ini. Istighfar terus terucap membasahi bibirku. 

‘Ya Allah, aku mencintai-Mu dan aku lebih memilih-Mu, maka kuputuskan hubungan dengan Reza karena berharap rahmat dari-Mu. Aku percaya jodoh ditangan-Mu. Kau Sang Pemilik hati kami. Hamba datang kesini bukan untuk mengkhianati-Mu. Hamba hanya ingin melawat Reza yang tengah Kau beri rahmat sakit ini. Ku mohon, kembalikanlah nikmat sehatnya, pulihkan dia seperti sedia kala. Hamba janji tak akan lagi mengusik hidupnya sebelum Kau ijinkan kami syah bersatu dalam restu-Mu. Hamba mohon...'

'Assalamu’alaikum, Akhy. Afwan ana harus pergi tak bisa berlama-lama disini menunggu sampai akhy terjaga dari tidur. Ana dah titipkan akhy pada Allah. Bukan maksud hati tega tinggalkan akhy yang tengah sakit, tapi apa kan daya, ana takut kita berdua terjebak dosa semakin dalam. Doa ana untuk kesembuhan akhy. Bila ada ijin-Nya, semoga kita dipertemukan dalam sebuah ijab qabul agar halal hubungan ini. Agar lebih leluasa untuk ana merawat akhy. Sekali lagi afwan ya, akhy. Ana mencintai akhy tapi ana lebih mencintai Sang Pencipta… Afwan'. 

Tak kuasa melanjutkan rangkaian kata-kata, segera kukirim pesan via whatsApp ke nomer pribadi Reza.

***

‘Maafkan aku, ukthy! Aku juga mencintaimu, mencintai agama yang ada padamu. Aku tak ingin hilang cinta ini hanya karena kau hilangkan agamamu dengan terus mencintaiku tanpa kepastian, tanpa ikatan resmi. Maafkan aku yang belum kuasa untuk datang menemui keluarga ukthy di Jawa untuk mengkhitbah. Semoga ukthy mampu bersabar karena disinipun aku akan tetap berjuang melawan sakitku. Semoga Allah berkenan perpanjang usiaku, semoga juga Allah berkenan pertemukan kita dipelaminan. Semoga... ya, ukthy J

Air mata ku berderai membaca balasan whatsApp Reza. Menuruti nafsu, ingin aku berlari kembali datang menemuinya. Tapi pesawat Garuda Airlines telah siap menerbangkanku menuju Bandara Juanda Surabaya. Akhirnya hanya lantunan istighfar tiada henti yang bisa kulakukan untuk meredam segala rasa di dada. Astagfirullaah hal adzim… Astagfirullaah hal adzim… Astagfirullaah hal adzim…

***


Juara 3 Lomba cerpen Islami FKMPU dan dimuat di buletin Tazkiyah Edisi 73 Maret 2014



4 comments:

Rendra Anggara said...

medan mbak ning...

Ning Sehati said...

pingin kesana kapan2 :-)

Intermezo said...

hehehehehe suka dengan ending-nya :)

Cicih Mintarsih said...

Mbak Eti, kisah ini mirip dengan ku.

Post a Comment

 
;