Thursday, 20 March 2014

Gurindam Dendam Terpendam

Gurindam Dendam Terpendam


Foto: blogspot
Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk” (QS.Maryam : 76)
Maka begitulah yang kurasakan tengah menimpa diriku saat ini.Subhanallah, sungguh betapa besar kasih sayang Allah kepada diri yang hina lagi kotor ini.Serasa malu yang teramat sangat manakala kubulatkan azzam untuk kembali lurus dijalan-Nya.Beban dosa terlalu menumpuk setelah sekian lama, bahkan hampir seumur hidupku, jarak yang jauh memisahkanku dari-Nya.Mungkin karena aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang kurang agamis.Mungkin juga karena aku sendiri yang terlalu tidak ambil peduli. Astagfirullaah hal adzim!
Agustus 2009 Allah mengujiku dengan begitu hebat.Dia memanggil putriku kembali ke haribaan-Nya.Ketika itu di suatu pagi buta aku mendapat telepon dari tanah air yang mengabarkan berita duka.Sontak duniaku terasa gelap.Aku sempat limbung dan hanya bisa menangis panjang dalam sujud subuhku.Hari itu juga aku putuskan kontrak secara sepihak dan pulang ke Indonesia.
Namanya Mahira –yang artinya ‘cerdas’-.Gadis kecil itu kulahirkan di bulan November 2001.Aku tinggalkan dia tiga tahun kemudian untuk merantau ke negeri jiran Malaysia karena suami tidak bekerja.Awal Maret 2008 kontrak kerjaku disebvah kilang elektronik habis dan aku putuskan untuk pulang ke tanah air.Aku ingat bahwa hanya beberapa bulan saja kebersamaan kami, karena pada bulan November akhir, aku terbang kembali ke luar negeri untuk bekerja, setelah aku resmi menyandang status janda. Suamiku, ayah Mahira, telah menikah dengan wanita lain dan menceraikanku.
Trauma dan penyesalan yang teramat mendalam masih saja berbekas bahkan sampai detik ini dihatiku.Mungkin karena faktor ketidakdewasaanku kala itu, pernah sekali aku begitu marah dan memukul pantat Mahira berkali-kali.Dia menangis menjerit-jerit mohon ampun.Tapi setan benar-benar telah menutup mata nuraniku sebagai ibu yang semestinya membelai anaknya dengan penuh kelembutan. Seberapapun besar kesalahan anak yang masih berumur 7 tahun! Padahal Mahira kecil adalah sosok yang luar biasa, dia sangat dikenal di kompleks perumahan.Uang saku hampir setiap hari dibagi-bagi dengan kawan-kawannya. Pun setiap sore dia rajin mengetuk pintu rumah mereka, mengajak mereka berangkat mengaji bersama. Dan kenangan itulah yang telah mengajarkan akuakan banyak hal.
Allah tidak benar-benar mengambil sesuatu dari kita. Lima belas bulan kemudian Dia mengganti bidadariku itu dengan yang lain. Aku melahirkan seorang bayi perempuan lagi dari pernikahanku yang kedua. Dan aku memberinya nama Salfa -yang berarti 'bijaksana'-. Namun agaknya Allah masih ingin memberiku hadiah-hadiah istimewa.Dia timpakan lagi sebuah ujian kepadaku. Suami keduaku, ayah Salfa, ternyata adalah seorang yang bertemperamental dan sangat possesif, mantan preman pasar pula! Dia duda beranak dua yang bekerja di pabrik alkohol, tiada hari baginya tanpa mabok! Dia kerap berlaku kasar kepadaku, baik secara tindakan kasat mata maupun lewat kata-kata.Aku wanita lemah, aku tak setegar Asiyah, akhirnya aku nekat memutuskan kembali ke Hong Kong ketika Salfa masih berumur 6 bulan.
Dan hidayah Allah datang menyapa, justru ketika aku bekerja pada majikan etnis Tionghoa yang sangat antipati dengan ibadah umat muslim. Setahun pertama bekerja, aku masih sangat jahiliyah.Sholat wajib bolong-bolong, puasa ramadhan juga, apalagi soal aurat. Sungguh aku malu bila mengingat setiap gaya tingkahku yang seolah masih gadis belia dan belum ada anak. Astagfirullaah hal adzim!
Aku bahkan sempat mengenal seorang lelaki muda asal Amerika, hampir satu tahun 'dekat'.Akibatnya rumah tangga yang awalnya sudah goyah, kian terpuruk. Sebab ternyata di kampung sana, suamiku juga serong dengan wanita lain. Azab Allah teramat perit kurasakan. Aku gagal menjadi istri dan ibu untuk yang kedua kali!
Alhamdulillah, hatiku pelan-pelan tersadarkan menginjak tahun kedua.Niat untuk memperbaiki diri mulai ada.Aku bersyukur teramat sangat karena Allah tidak benar-benar mematikan hatiku setelah maksiat yang kulakukan sempat mengeraskan hatiku dari berbagai nasehat.Masih ada setitik iman di dada.Dan Allah mulai mengirimkan malaikat-malaikatnya yang menjelma dalam sosok dan pribadi yang sangat tangguh, kepadaku.Membantuku bangkit setelah aku jatuh tersungkur dilembah kenistaan.Satu per satu Allah mempertemukanku dengan kawan-kawan yang bijak dan alim.Mereka tak mengolokku, mereka bahkan dengan sabarnya membimbing dan mengarahkanku.Mengajakku belajar dan diskusi bersama bab-bab agama.Sampai hatiku benar-benar terketuk.
Plaaaaaaak!
Aku seolah mendapat tamparan keras, terasa panas di awal, namun belakangan justru kurasakan kesejukannya.Dan teori botol kecap hendak menjadi botol aqua pun berlaku pada diriku.Perlahan namun pasti dengan berbagai cara-Nya, Allah seolah hendak menuang habis noda hitam yang telah mencemari masa laluku.Namun seperti ayat berikut, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” QS. Al-Ankabut : 2. Ya, Allah masih ingin menguji kesungguhanku.  
Pertengkaran yang terus saja terjadi diantara aku dan suami, akhirnya memutus komunikasi kami. Terakhir suamiku sempat mengancam bahwa dia tidak akan mengijinkan aku untuk bertemu dengan Salfa kalau aku pulang tanah air nanti. Belajar dari pengalaman pertama, anak menderita karena perceraian sampai ajal menjemput, maka kali ini aku memilih ‘pasrah’ sambil sumbar kepadanya, ‘Boleh saja kamu pisahkan aku dari darah dagingku. Kehilangan satu Salfa, kelak aku akan memiliki puluhan Salfa-Salfa yang lain!’  
Semenjak hari itu semakin kucoba memperteguh keimanan. Dijalan-Nya aku belajar istiqomah, meski tanpa pendamping lagi, tempat berbagi keluh kesah. Hanya kepada sahabat-sahabat aku ungkapkan segala rasa.Dan hanya kepada Allah aku adukan segala penat.
Kusibukkan diri dengan bergabung di Forum Lingkar pena Hong Kong, juga melanjutkan sekolah, setelah enam belas tahun aku lulus dari bangku SMA. Bukan untuk mengejar gelar sarjana dan berharap mendapat kerja yang lebih layak, bukan itu tujuanku.Ini hanya salah satu caraku untuk menjadi lebih baik, karena ternyata menjadi seorang ibu berarti harus siap menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya.Meski dua kali diberi kesempatan untuk itu telah kusia-siakan, aku masih tetap berharap suatu hari nanti aku mampu buktikan kepada dunia bahwa aku pun layak digelari ‘Ibu Sejati’ dari anak-anak yang lahir dari rahimku.
Hingga suatu hari, seolah Allah memberikan sebuah jalan terang, Dia mempertemukanku dengan seorang kawan. Setelah ngobrol kesana kemari, ternyata kami memiliki visi dan misi yang sama. Pendidikan anak-anak. Maka kami sepakat membentuk organisasi pelajar, sebuah perkumpulan yang beranggotakan para buruh migrant Indonesia di Hong Kong yang juga memiliki profesi lain yakni sebagai seorang pelajar –formal dan non-formal-. Lantas kami memberinya nama ApiKita-HK. Berangkat dari filosofi api sebagai penerang, maka di usia yang masih muda, bersama para anggota secara merangkak kami mulai meluncurkan beberapa program diantaranya melalui Gerakan One Day One Dollar. Kami mengumpulkan donatur yang notabene adalah para pekerja rumah tangga untuk memberikan bantuan beasiswa kepada adek-adek usia SD di tanah air yang berprestasi namun terbentur oleh kondisi perekonomian keluarga yang masih hidup pra-sejahtera.
Sebagai penggemar buku, aku dan kawan-kawan sepakat berbagi melalui program 100 buku anak-anak untuk taman bacaan yang dikelola oleh para sukarelawan di daerah-daerah yang masih pra-sejahtera.
Dan masih banyak lagi rencana-rencana yang telah kami susun, diantaranya menyiapkan diri semaksimal mungkin untuk paripurna pulang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan terjun langsung ke lapangan.
Bagaimanapun aku coba memalingkan kerinduan yang teramat, aku tetap berdoa semoga kelak suatu hari nanti, Allah berkenan mempertemukan dan mengumpulkanku kembali dengan anak-anakku, darah dagingku, buah hatiku.Aku bertekad tak mau terus-terusan larut dalam penderitaan. Saat ini yang bisa kulakukan dengan menjadi ‘Ibu Angkat’ bagi anak-anak yang lahir bukan dari rahimku, bahkan yang aku tidak kenal siapa mereka, harapku Allah berkenan mengampuni dosa dan kekhilafanku karena telah mengabaikan hak anak-anakku untuk tumbuh besar dalam tanganku.
“Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, aku datang pada-Mu dengan segala kerendahanku.Ampuni dosa-dosaku, terimalah taubatku.Ijinkan perjuanganku ini semata mengharap karunia-Mu.Restui hamba, karena kutahu, bahwa anak adalah amanah-Mu, titipan-Mu. Tapi Kau tetap lebih kucintai… Maka terimalah segala yang kulakukan ini…Aamiin”.
Maafkan Ibu, anak-anakku…
Kennedy Town, 13 Feb 2014

Ning Sehati - Hongkong
(Peserta LNN 2014)




Juara I Lomba Nulis Nabawia 2014

Link asli http://www.nabawia.com/read/6195/inilah-para-pemenang-lomba-nulis-nabawia-2014?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

0 comments:

Post a comment

 
;