Thursday, 14 November 2013

"INGAT MATI!!"

Beberapa waktu terakhir ini di hampir setiap tabloid berbahasa Indonesia di HK yang terbit sekitar dua minggu sekali, selalu saja ada berita kematian tentang teman-teman sesama BMI. Berbagai macam penyebab diantaranya sakit, jatuh dari ketinggian dan yang dua terakhir ku terima beritanya pagi ini karena tanpa sebab tertentu -baru diketahui setelah proses autopsi-. 
Memang cara bagaimana kita 'dimatikan' adalah rahasia Allah. Semua telah tercatat di Lauful Mahfudz-Nya. Sengaja Allah menyembunyikannya dari kita agar kita selalu berusaha untuk mati dalam keadaan khusnul khotimah bukan su'ul khotimah. 

Selama ini mungkin masih banyak diantara kita yang terlalu disibukkan oleh urusan mengumpulkan bekal untuk kehidupan di hari tua nanti. Kita lupa bahwa tak ada jaminan tentang berapa panjang umur kita. Miris, ketika kita sampai terlupa menyiapkan bekal terpenting yang akan kita bawa pulang menuju kehidupan yang lebih abadi. Bukankah dunia ini hanya persinggahan sementara? Dan bukankah tak ada yang abadi di dunia ini? Aku rasa semua sudah pada tahu, bukan?

Hari ini seorang teman mengingatkanku lebih dalam tentang hal satu ini. Awalnya di grup whatsApp kami tengah membahas perihal mukena yang syarie' -sesuai syariat Islam-. Aku bilang: pilihlah mukena yang polos tanpa motif yang mencolok, khawatir terperangkap tabaruj atau riya'. Kalau memang majikan HK takut akan warna putih -menurut mereka putih adalah warna kematian- maka kita bisa memilih warna lain seperti ungu, biru, coklat. Asal tidak tipis/tembus pandang. Lalu seorang sahabat baik meng'inbokku secara pribadi. Dia bercerita tentang gurunya yang selama hidup menyimpan kain mori/kafan di dalam lemarinya. Setiap kali beliau membuka lemari dan melihat kain itu, seketika itu juga beliau ingat mati. Maka makin rajin dan semangatlah beliau beribadah kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan, mempersiapkan bekal sebanyak mungkin. 


Subhanallah!! Kematian yang indah sungguh sangat dirindukan oleh sebagian orang yang meyakini bahwa kelak kehidupan di alam kekal abadi adalah jauh lebih menggembirakan seperti janji-janji Allah yang tersurat dan tersirat di banyak ayat. Kehidupan dunia ini tiada sebanding bahkan walau seujung kuku. Lalu, bagi mereka yang mau berpikir, masih pantaskah dunia ini lebih kau bela dan kejar? Toh, ia ibarat bayangan, tak kan pernah mampu kau menangkapnya!


Baginda kita Rasulullah SAW telah meninggalkan dua warisan kepada kita, umatnya. Satu yang bisa 'berbicara' yakni Al-Qur'an dan Hadist. Sedang yang kedua yang tidak bicara, ia diam yakni 'kematian'.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»


Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).

Maka ketika berita kematian diumumkan, yang paling banyak dilakukan adalah mendoakan si fulan, lupa untuk mendoakan diri sendiri, padahal sekali lagi, kematian yang ada di depan mata adalah seb
uah PENGINGAT untuk yang masih hidup, bahwa merekapun sesungguhnya tengah dalam antrian panjang. Maka janganlah pernah lupa untuk mendoakan diri sendiri, semoga Allah selalu menjaga kita, merahmati semua usaha kita dalam meyiapkan bekal -beramal sholeh- dan mematikan kita dalam keadaan yang baik, khusnul khotimah. Jikapun air mata sampai turun tak terbendung, maka pastikan itu adalah air mata penyesalan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan selama ini, bukan air mata merana karena ditinggal si fulan.



اللهم اختم لنا بحسـن الخاتمة ولا تختم علينا بسـوء الخاتمة

“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan khusnul-khatimah (akhir yang baik), dan jangan Kau akhiri hidup kami dengan suu-ul-khatimah (akhir yang buruk)”
Aamiin.



Kesalahan datang dari pada k
u dan Kebenaran Mutlak milik ALLAH SWT.
والله أعلمُ بالـصـواب 

8 comments:

Eva Mitrawati said...

Assalamu‘alaikum. Mampir mba :-D

Erin Cipta said...

Tulisan yang membuatku terdiam, dan berpikir.
Terimakasih pencerahannya

Ning Sehati said...

wa'alaikum salam,,,

monggo pinarak, dek ^_^

Ning Sehati said...

semoga bermanfaat, Mbak Erin :-)

Gunar Gunar said...

Subhanallah ... semngat trus tuk menulis nya buk Eti.

Gunar-

http://bungonglimeng.tumblr.com/

ZHIANG Zhi said...

Salam keajaiban

Wiwit Widayati said...

Blognya keren tulisannya mantap, salam kenal ya mbak ...

Ning Sehati said...

salam kenal balik, Mbak Wiwit :) trima kasih dah mampir :)

Post a Comment

 
;