Thursday, 21 November 2013

"ISTIQOMAHLAH, UKTHY!"


 Assalamu'alaikum,,, 

        Pagi ini, berawal dari obrolan ringan seputar kegiatan para Syi'ah di negeri beton yang mulai terlihat marak di beberapa titik, aku mencoba untuk mengingatkan seorang teman yang -menurut pengakuannya- selalu berbusana serba hitam lengkap dengan cadarnya baik di setiap hari libur Minggu maupun libur nasional lainnya. Entah mengapa tiba-tiba aku begitu mengkhawatirkan dirinya, teringat satu kalimat yang pernah disampaikan padaku melalui inbok whatsApp, kalau calonnya gak kasih dia pakai baju warna-warni. Bukan bermaksud su'udzan sama sekali kalau akhirnya aku nekat bertanya juga.

Sebagai langkah awal, aku share beberapa foto kegiatan yang ku dapat dari wall facebook. Lalu aku tanya apakah dia mengenal wajah-wajah di foto itu. Dia jawab tidak kenal. Lalu dia balik bertanya padaku, siapakah mereka itu. Aku jawab apa adanya, ternyata dia pun telah mengetahui bahwa aliran mereka sesat. Syukurlah,,, aku -sempat- menghela nafas panjang. 

"Baju hitam tak masalah tapi aqidahnya yang harus difahamkan," katanya kemudian. Aku setuju karena memang sunnah untuk memilih pakaian berwarna gelap atau yang tidak terlalu menyolok/'ngejreng' agar tidak menarik perhatian para akhwat. "Bila kita faham aqidah dan fiqih yang benar in syaa Allah keimanan kita aman. Tapi sayang, kebanyakan teman-teman disini sukanya ikut-ikutan saja. Orang yang benar dianggap salah, sedangkan yang salah malah dibenarkan. Itulah orang yang belum faham akidah." ujarnya panjang lebar. "Diingatkan katanya sok pinter, didiamkan malah jadi gak karuan. Memang sulit mengajak orang ke arah kebaikan, tapi kita gak boleh putus asa, selalu ingat kisah Baginda Rasulullah saat dakwah dulu semangatnya begitu luar biasa."

"Orang yang pertama dilihat kan fisik, penampilan luarnya dulu." balasku pendek. 

"Hmmm... Orang yang berpakaian baik belum tentu memang baik. Tapi bila hati, aqidah dan keimanannya baik, in syaa Allah dia akan malu dan lantas memilih untuk berpakaian baik." kalimatnya benar memang. 
"Wanita sholehah pasti menutup aurat dengan baik dan sempurna sebagai bukti kebaikan iman dan aqidahnya. Akan tetapi gak ada jaminan yang berjilbab pasti sholehah." Aku mencoba menambahkan pendapatnya. 

"Sholehah dilihat bukan karena pakaian tapi dari akhlak dan tingkah laku kesehariannya. Dan dia pasti selalu menjaga hubungan dengan Allah." 

"Astagfirullah hal adzim!" Aku sedikit kaget dengan pernyataannya yang awal. "Istighfar, ukthy! Tahukah ukthy yang kalimat ukthy barusan membuat para setan bersorak-sorak gembira karena ukthy telah terpedaya oleh tipu muslihatnya,". Aku paham benar maksudnya bahwa menurut dia sholehah atau tidaknya seorang muslimah itu bukan ditentukan pada cara berpakaian yang menutup aurat.

Tiba-tiba aku teringat kabar dari teman-teman lain yang mengatakan padaku tentang kondisinya saat ini. Ada sedikit perasaan kecewa menyelinap dalam hati. "Perbanyak membaca Al-Qur'an, jangan teruskan pemikiran sesat Ukthy itu!". Wajib hukumnya saling mengingatkan, kataku dalam hati. "Menutup aurat dengan sempurna hukumnya wajib, sama seperti wajibnya sholat lima waktu, berpuasa dan membayar zakat fitrah di bulan Ramadhan. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya." tuturku lembut. 

"Na'am." jawabnya singkat. 

"Sebaik apapun perilaku wanita kalau auratnya masih dibiarkan terbuka, tetep saja nanti bakal kena sambar api neraka. Bahkan bau syurgapun tidak akan tercium harumnya. Na'udzubillahi min dzalik." aku mencoba terus meyakinkannya. 

"Tapi yang sudah menutup aurat kelakuannya masih nyerong itu gimana?" dia mulai berkilah. 

"Ukthy, jilbab dan perilaku adalah dua hal yang berbeda. Kewajiban tetap kewajiban, HARUS ditunaikan." Sengaja ku pakai huruf kapital untuk menegaskan perintah yang satu ini. "Sedangkan perilaku tak terpuji adalah sifat dasar manusia yang tercipta bukan dari cahaya seperti para malaikat yang selalu patuh, bukan pula dari api seperti para syetan yang selalu ingkar. Manusia tercipta dari tanah, terkadang imannya kuat bisa melebihi malaikat namun ada juga yang lemah iman, lebih jahat dari pada syetan." jawabku.

"Memang ana kerja tak memakai tudung, tapi ana senantiasa ingat Allah koq." dia beralasan. Temanku ini kerjanya lebih banyak di luar rumah -tidak seperti para BMI lainnya- selalu bertemu banyak orang, laki-laki maupun perempuan, muhrim maupun non-muhrim. Pernah sekali dia mengatakan kepadaku bahwa majikan tidak mengijinkannya menutup aurat. Pun untuk ibadah sholat, dia selalu lakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Niat ana datang Hong Kong mau kerja cari uang, ana gak mau gagal -diterminit- kalau sampai melanggar peraturan majikan." ujarnya waktu itu. 

"Senantiasa mengingat Allah adalah sebuah kemutlakan. Akan tetapi tidak malukah diri kita disaat mengingat Allah, kita tengah melalaikan perintanh-Nya dengan sengaja hanya karena alasan kepatuhan kepada aturan yang dibuat manusia lebih diutamakan?" tanyaku tanpa maksud menyudutkan. Lima menit berlalu tanpa balasan darinya. Entah dia tengah merenungi pertanyaanku atau tengah sibuk dengan aktivitasnya. "Pakai saja jilbab praktis langsung pakai disaat jam kerja. Di luar sana banyak mata-mata liar, dengan 'bertelanjang' tanpa jilbab sempurna, kita hanya akan menyeret mereka, ayah kita, suami kita, saudara laki-laki kita -termasuk diri kita sendiri- ke neraka." Lima menit berlalu lagi, tetap tanpa balasan. "Jangan biarkan ibadah kita menjadi sia-sia karena kita dengan sengaja mempermainkan aturan Allah dengan memakai jilbab seminggu sekali di waktu libur saja." aku terus mencoba membuatnya lebih mengerti lagi. 

Bukan munafik, akupun dulu begitu. Buka tutup jilbab tanpa ada beban rasa bersalah dan berdosa. Meski sebenarnya aku tahu itu sangat tidak benar. Terkesan meremehkan. Setelah Allah melembutkan hatiku yang dulu mungkin lebih keras dari hati temanku ini, alhamdulillah kalam-kalam Allah terasa lebih mudah untuk ku terima dengan penuh keyakinan, tanpa ada keraguan dan banyak pertanyaan; mengapa begini, mengapa begitu seperti yang terjadi pada beberapa orang yang kujumpai baik di dunia nyata maupun di dunia maya. 

"Bila hati sudah berjilbab, Allah selalu memberi cara." Setelah hampir setengah jam, masuk lagi pesannya, masih dengan syubhat awalnya. 

"Jilbab hati tanpa jilbab fisik, nanti yang masuk syurga hatinya saja, sedang badannya dibakar api neraka. Mau?" tanyaku dengan menyisipkan tanda mengerling mata. "Afwan, bukannya ana sok pintar seperti yang Ukthy bilang tadi, tapi ana dengar dari teman-teman kalau Ukthy rajin mendakwahi mereka sekarang. Sungguh mulia niat Ukthy, akan tetapi alangkah sangat disayangkan kalau Ukthy sendiri tidak memberikan contoh dan tauladan yang baik dan benar kepada mereka. Bukannya mereka akan menerima, yang ada malah mereka hanya akan menertawakan dan semakin meremehkan. Sia-sia kan?" Aku diam sesaat, menunggu reaksinya.

Namun sekian menit lewat tanpa ada balasan darinya. Tanggung, pikirku. "Dakwah adalah menyampaikan kebenaran. Jangan sampai orang-orang yang gak mengerti semakin salah kaprah menafsirkan perintah karena kita sendiri salah menberikan pengertian akibat minim dan dangkalnya ilmu yang kita pelajari." pesan terakhirku mengakiri perbincangan hari ini. 

Sesungguhnya ini bukanlah perbincangan pertama kami. Sekali dulu aku pernah mengingatkannya tentang cara berpakaiannya yang masih menyerupai lelaki dengan celana jins ketatnya. Entah dia sudah buang atau belum koleksi jins yang aku tahu memang harganya gak murah itu. Buku "Saat Jilbab Terasa Berat" yang pernah ku tawarkan padanya untuk dibaca, sampai saat ini masih saja ditanganku. Karena kesibukan masing-masing, Allah belum mengijinkan kami bertemu muka. Namun tak henti aku berdoa memohon supaya Allah senantiasa merahmati ukhuwah kami ini. Biarlah hari ini dia menilaiku sok cerewet atau apapun, asal kelak suatu hari nanti dia akan mengingatiku sebagai seorang sahabat sejati. Seperti halnya diriku yang tak pernah lelah mengucap terima kasih kepada para sahabat yang telah dengan penuh kesabaran dan ketelatenan selalu berupaya untuk 'menjaga'ku dikala aku lemah dan hampir hilang arah. Alhamdulillah... 

Berikut salah satu kalimat yang tidak akan pernah ku lupakan dari seorang sahabat; "Jilbab bukan ukuran baik atau tidaknya akhlak seorang muslimah. Tidak disyaratkan hati, akhlak, ilmu agama, sholat, puasa dan amalan lainnya untuk sempurna dulu. Menutup aurat -bukan membalut- adalah perintah Allah untuk semua perempuan baligh, hukumnya wajib. Jika tidak ditunaikan konsekwensinya kita melakukan dosa setiap hari, seperti dosa tidak melakukan kewajiban lainnya."

Betapa indah saling mencintai dan mengasihi karena Allah kan, Ukthy? :-)

4 comments:

giarti ahmad said...

Cintailah seseorang karena Allah dan bencilah seseorang karena Allah pula, terus berikhtiar dlm menegakkan syariat Allah ,,, ma'annajah ukhty,,,!

Ning Sehati said...

selalu libatkan Allah dalam setiap detak nadi qt,,, ^_^

giarti ahmad said...

Aku ingin kembali seperti yang dulu,, tapi ternyata aku blum kuat akan gemerlapnya dunia,,

Ning Sehati said...

Ketika kita berada ditengah gemerlapnya dunia, bukan berarti kita menginginkannya,,, kita hanya membutuhkannya sebagai sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih hakiki nanti,,,

Post a Comment

 
;