Sunday, 11 May 2014

Kartini itu Emakku!

Kartini itu Emakku!
Oleh. Ning Sehati


Victoria Park masih lengang pagi itu, hanya terlihat beberapa manula yang tengah melakukan olah raga ringan secara berkelompok di beberapa sudut lapangan. Suasana awal tahun dengan suhu rendah berkisar 15 derajat celcius, mereka tetap semangat menjaga kebugaran tubuh. Hari Sabtu memang tak banyak teman-teman buruh migran Indonesia yang libur seperti pada hari Minggu. 

Dan hari itu aku sengaja minta ijin majikan untuk ganti hari beristirahat. Kalau bukan karena Emak yang memaksa, aku sebenarnya lebih suka menghabiskan hari libur nongkrong bareng sahabat-sahabatku, jalan-jalan cuci mata keluar masuk pertokoan besar yang banyak tersebar di Hong Kong ini atau mengunjungi tempat-tempat eksotik yang bertebaran di seantero negeri beton. Kami lima bersahabat, memiliki hobi sama, shopping dan traveling. Dua hal yang selalu membuat Emak gerah dan tak henti-henti ngomel dan berpetuah ini itu, membuat panas kupingku!

Beep… beep…

‘Dimana, Nduk? Emak di bawah jembatan bundar ini…’ sms masuk dari Emak.

Enggan membalas, aku langsung saja dial nomer Emak.

“Emak tunggu situ saja ya, Enggar jalan kesitu, lima menit sampai deh.”

Klik.

Aku bergegas membereskan koran lokal gratisan yang belum habis kubaca dan segera berlari kecil menyusuri trotoar Sugar Street yang mulai terlihat di sana-sini wajah-wajah alami sawo matang khas kulit Jawa. Hehe…

***

“Lho… lho… lho… eiiiit… eiiiiit… tunggu, Mak!” aku menahan lengan Emak sebelum tubuh tambunnya memasuki sebuah pintu kaca flat di lantai dua gedung tua yang berlokasi di seberang Leighton Road.

“Ayo masuk, Nduk!” Emak mencoba melepaskan pegangan tanganku.

Sebuah stiker papan nama berukuran besar, tertempel di pintu itu. Benar-benar buatku terperanjat. Ada urusan apa Emak datang ke tempat ini?

“Walah… malah bengong kamu ini! Ayo temani Emak masuk!”

“Tapi, Mak…”

Belum sempat kuakhiri kalimatku ketika pintu terbuka setelah Emak menekan bel dua kali. Seorang wanita berkulit putih dan bermata sipit tersenyum ke arah kami. Ramah ia mempersilahkan kami masuk.

“Come in, please!”

“Thank you,” Emak menyahut malu-malu.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

Staff berkebangsaan Tionghoa itu memberikan isyarat kepada kami untuk duduk.

“Oh yes… yes…”

Emak mencolek pinggangku, menyadarkanku dari keterkejutan. Ya, aku masih tidak mengerti dengan semua ini.

“Nduk, tolong kamu kasih tau Siuce kalau Emak mau daftar sekolah,” Emak berbisik di telinga kananku sembari telunjuknya mengarah pada selembar brosur yang menumpuk di atas meja kerja.

Hah?

Emak ingin sekolah jurusan Bahasa Inggris?

Aku semakin terperanjat. Bagaimana tidak, usia Emak sudah lebih dari empat puluh tahun, untuk apa coba beliau mau bersusah-susah mempelajari bahasa asing nomer satu di dunia ini. Seingatku majikan Emak juga bukan keluarga bule. Dan lagi anak majikan sudah besar, tidak perlu diajari Bahasa Inggris seperti yang kulakukan pada anak majikanku yang masih berumur tiga tahun.
Akhirnya setelah sempat sedikit bersitegang, aku memilih mengalah dan membantu Emak mengisi selembar formulir pendaftaran. Meski dengan berat hati!

***


Empat Tahun Kemudian

“Minggu ini kamu libur kan, Nduk?” suara Emak terdengar agak berbisik di seberang.

“Emang kenapa, Mak?” tanyaku sembari membetulkan letak headset yang kupasang asal di telinga.
Hari beranjak petang, kesibukan di dapur menyiapkan menu makan malam untuk keluarga majikan, membuat kedua tanganku sangat sibuk.

“Temani Emak bisa?”

“Kemana?”

“Kalau kamu libur, Emak tunggu jam 9 pagi di depan Regal Hotel ya…”

Klik.

Emak menutup telepon begitu saja, tanpa menunggu jawabanku. Mungkin ada majikan di sekitar dia. Ah, beginilah susahnya kerja ikut orang, mau ngobrol sama keluarga sendiri pun kadang masih harus mencuri waktu. Padahal tidak setiap hari kami berbincang lewat udara.

Semenjak memutuskan untuk menjadi seorang mahasiswa, Emak semakin sibuk dan jarang sekali mengajakku libur bersama sekedar duduk-duduk di tengah lapangan rumput Victoria Park, menikmati masakannya yang sedap. Terakhir aku dengar kabar kalau di samping kuliah, Emak juga aktif di sebuah perkumpulan. Pernah sekali waktu Emak mengajakku gabung, tapi dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, aku menolaknya. Selain segan dengan sahabat-sahabatku, aku juga kurang sreg dengan acara-acara seperti itu. Nggak seru banget kan libur hanya duduk seharian?

***

Emak?

Aku tercengang melihat penampilan wanita yang dua puluh lima tahun lalu itu telah melahirkanku ke dunia ini, memberiku peluang untuk menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan. Dari jarak sekian meter kulihat Emak begitu lain dari biasanya. Dandanan Emak nampak tak sepolos biasanya. Begitupun dengan beberapa teman lain yang asyik ngobrol bersamanya. Cantik-cantik dalam balutan kebaya nasional. Ehmmm… aku jadi penasaran, ada acara apa sebenarnya mereka.

“Maaf, Enggar telat, Mak,” ujarku ketika langkahku terhenti tepat di depan Emak. “Si kecil rewel nggak kasih Enggar libur,” lanjutku.

Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kanan, sudah hampir jam 10. Aku terlambat hampir satu jam dari waktu yang diminta Emak.

“Ayo buruan kita masuk, acara sudah dimulai…” Emak menyeret tanganku, tak memberiku kesempatan untuk bertanya.

Memasuki ke dalam sebuah ruangan berukuran cukup luas dan nampak elegan, telah ramai kawan-kawan sesama buruh migran Indonesia duduk hampir memenuhi semua kursi yang tersedia. Dari pakaian yang dikenakan mereka, akhirnya aku tahu ada acara apa hari ini.
Satu per satu rangkaian acara berlalu, hingga tiba acara puncak. Pengumuman wisudawan terbaik. Dan yang terakhir adalah…

“Penghargaan khusus kami tujukan kepada mahasiswa tertua kami yang memiliki semangat dan jiwa muda, tak mau kalah dengan mahasiswa belia lain, dengan perolehan nilai yang cukup lumayan, hadirin sekalian, mari kita sambut bersama, Ibu Kartini…” sang pembawa acara menunjuk ke arah kami duduk.

Seisi ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan dan teriakan-teriakan kecil. Emak melirik ke arahku dan lantas berdiri sambil membetulkan busananya. Dengan langkah mantap, Emak berjalan ke atas panggung.

“Terima kasih saya ucapkan kepada pihak yayasan yang telah memberi saya kesempatan untuk menggapai cita-cita saya, mewujudkan mimpi-mimpi saya yang sempat seperempat abad lamanya terpendam bahkan hampir terlukan. Semoga memang tidak pernah ada kata terlambat buat belajar. Dan semua ini adalah buktinya…” Emak tersenyum, melempar pandangan ke arahku. “… selepas ini saya akan pensiun kerja ikut orang dan segera pulang kampung karena di sana banyak hal yang bisa saya lakukan dengan berbagai macam ilmu yang telah saya pelajari selama empat tahun ini. Harapan saya semoga anak-anak yayasan bisa pintar-pintar seperti anak-anak Hong Kong.”

Kembali suasana dipenuhi tepuk tangan para hadirin mendengar kalimat lugu Emak. Sementara aku hanya terpaku di tempat dudukku. Mataku tiba-tiba terasa menghangat. Hatiku bergelora, berbagai macam perasaan campur aduk jadi satu. Bahagia, bangga, malu… Emak yang mantan guru mengaji sebelum datang kerja di Hong Kong beberapa tahun silam, dalam keadaan terpuruk setelah ditinggal bapak kawin lagi, ternyata semangat hidupnya untuk mengabdikan diri pada masyarakat, kian membaja dan tak pernah surut dimakan waktu.

Aku ingat pernah suatu hari Emak berkata kepadaku, ‘Nduk, simpan uang kamu baik-baik ya, karena mungkin Emak nggak bisa kasih kamu warisan apa-apa nanti…’ Ternyata selain untuk membiayai kuliahnya, uang gaji Emak selama ini dimanfaatkan untuk mendirikan sebuah yayasan belajar untuk anak-anak kurang mampu yang ada di desa kami dan desa-desa lain sekitarnya. Meski baru dan masih dalam tahap merintis, tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar. Emak tak pernah kekurangan, apalagi sampai harus berhutang pada bank. Kadang aku heran, bagaimana Emak bisa mengatur keuangannya dengan baik. Tak seperti aku yang sering gali lobang tutup lobang. Awal bulan terima gaji, pertengahan bulan sudah terasa kembang kempis. Hehe…

Ah, Emak, pantesan saja Emak tak pernah membantuku di kala aku kehabisan uang di setiap akhir bulan. Aku sering ngambek bahkan sempat menjuluki Emak pelit. Ternyata semua itu Emak lakukan dengan tujuan tidak ingin memanjakan diriku, anak semata wayangnya. Tiba-tiba kelopak mataku terasa menghangat, dan tak berapa lama butiran-butiran kristal menetes dari keduanya. Aku sangat terharu menyaksikan dari jauh Emak dipeluk bergantian oleh para mahasiswa dan pengurus yayasan.

‘Emak, maafkan anakmu ini yang telah salah menilai perjuanganmu selama ini. Aku anakmu yang semestinya mendukungmu tapi malah meremehkanmu!’

Aku benar-benar merasa malu dan merasa tidak berarti apa-apa. Kesempatan untukku belajar dan berkarya masih sangat lebar, tapi bodohnya aku karena telah menyia-nyiakan waktu begitu saja. Bergegas aku bangkit dari duduk dan berjalan cepat ke arah kerumunan mahasiswa berbaju toga.

“Emak, doa, tauladan dan ilmu bermanfaat yang kau tinggalkan untukku adalah lebih dari cukup! I love you full, Emak! I’m so proud of you!” bisikku  di telinga Emak. Kupeluk rapat-rapat tubuh Emak, tak perduli lagi dengan tatapan dan sindiran sinis karena gaya berpakaianku  yang sangat kurang sopan.

“Enggar juga mau jadi mahasiswa seperti Emak!” teriakku  kencang-kencang mengejutkan seluruh hadirin.(*)




Dimuat di Tabloid Dwi-Mingguan ApaKabar Plus Hong Kong Edisi #05 Thn IX * 10 - 23 Mei 2014




2 comments:

rakazho said...

salut buat emak yg tak kenal usia..terus bersemangat menuntut ilmu.
smoga jadi tauladan kita smua..
selamat dan sukses buat Ning dan teruslah berkarya....!

Cicih Mintarsih said...

Muantabbbb

Post a comment

 
;