Tuesday, 2 June 2015

Murid dari Alam Lain




Murid dari Alam Lain
Oleh. Ning Sehati


            Matahari kian terik ketika langkah Inayah menapak halaman SDN Penangguhan 1 yang terletak di pedalaman Malang selatan. Senyum getir tersungging di bibirnya. Miris! Sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa kini tersaji di depan mata.

            Beberapa bangunan kelas yang lusuh, warna cat yang mulai pudar serta bagian atap yang mengelupas disana-sini. Lantai semen juga banyak yang rusak berlubang sehingga pelataran sekolah terlihat kotor dengan pasir yang berserakan. Pepohonan yang tumbuh di sekitar lapangan pun nampak kering tak terurus. 

            Suasana begitu lengang. Tak nampak murid berkeliaran. Sejenak mata Inayah tertuju ke arah sebuah bangunan yang terletak di bagian paling ujung. Ada papan nama bertuliskan ‘Ruang Guru’ yang menggantung di depan pintu yang terbuka. Hanya beberapa langkah saja, Inayah telah sampai di depan pintu.

            Seorang wanita setengah baya menyambut kedatangan Inayah. Setelah berbincang beberapa waktu, wanita itu mengajak Inayah meninggalkan ruangan guru menuju ruang kelas. Setelah sampai di ruang kelas V, wanita itu memperkenalkan Inayah kepada para murid sekadarnya.

            Dua puluh murid menyambut Inayah dengan ekspresi biasa saja. Menurut penuturan wanita itu, para murid terlampau jenuh dengan hadirnya guru baru. Dalam setahun terakhir, Inayah adalah guru baru kelima yang dikirim untuk mengajar mereka. Entah apa yang terjadi, sehingga keempat guru sebelumnya memutuskan untuk pergi lebih cepat dari masa perjanjian yang telah disepakati.

***
            
           Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa delapan puluh hari sudah Inayah hidup jauh dari peradaban kota. Tanpa internet berarti tanpa sosial media. Telepon genggam pintarnya lebih banyak tergeletak nganggur di atas ranjang. Hanya Nokia jadul yang selalu ada di dalam tas kerja. Itupun jarang bunyi karena jaringan yang sangat buruk.

            Kebersamaan bersama para muridlah yang sedikit menghibur hati Inayah. Kepolosan dan keluguan mereka begitu memikat hati Inayah. Gaya hidup dan kesederhanaan dalam keseharian mereka begitu berbeda dengan masa kecil Inayah yang penuh dengan mainan serba canggih. Betapa ia ingat kalau dulu tak pernah merasakan asyiknya bermain tanah liat, bernyanyi dan menari dalam deras hujan ataupun serunya bermain petak umpet di tengah perkebunan coklat. 

            “Ibu Guru!” 

Sebuah teriakan kecil tiba-tiba membuyarkan lamunan Inayah di pagi buta. Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berlarian tergopoh-gopoh ke arahnya.

“Ada apa, Pul?” tanya Inayah keheranan menyambut Saipul yang telah berhenti di hadapannya.

Lelaki kecil itu nampak sibuk mengatur nafas yang masih tersenggal-senggal. Sesekali punggung tangannya yang hitam mengusap keringat yang mengucur di dahi.

            “Agung, Bu! Agung…!” kalimat Saipul terputus.

           “Kenapa dengan Agung, Pul?” keheranan Inayah berubah menjadi rasa penasaran. “Sini duduk dulu kamu. Ibu ambilkan air putih…”.

            “Tidak usah, Bu!” teriak Saipul sambil tangannya menarik baju Inayah.

Hati Inayah kian tak karuan. Ditambah melihat wajah Saipul yang tampak pucat pasi. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi, batinnya.

            “Ayo, Bu!” tanpa malu-malu Saipul menarik tangan Inayah. “Ikut saya!”.

Inayah seolah tersihir keadaan, dituruti saja kemana langkah kaki Saipul membawanya pergi. Sampai ia terlupa untuk berpamitan kepada Bu Marti, pemilik rumah tempatnya menumpang tinggal.

***
           
            Seminggu sudah peristiwa pagi buta itu berlalu. Suasana berkabung masih terasa di antara para murid dan guru. Meski sedih, Inayah mencoba untuk tampak tegar di hadapan murid-muridnya.

          Bangku paling depan kosong. Hendrik yang biasa duduk bersebelahan dengan Agung, memutuskan untuk pindah ke deretan paling belakang, mungkin dia merasa kurang nyaman, tiada lagi teman bercengkerama dan berdiskusi mengerjakan tugas-tugas yang Inayah berikan.

            “Ayo anak-anak, masukkan buku kalian ke dalam laci dan siapkan selembar kertas, kita ulangan hari ini!” 

Inayah tersenyum melihat melihat wajah-wajah kaget di hadapannya. Ulangan mendadak adalah suatu momok bagi para pelajar. Suasana kelas menjadi ramai dengan berbagai macam keluhan.

            “Soal no satu… bla.. bla… bla…” Inayah terus saja melanjutkan aksinya mendiktekan soal-soal, tanpa mempedulikan kegusaran para murid.

Beberapa menit kemudian suasana menjadi begitu hening. Para murid telah terbius oleh sepuluh soal Bahasa Indonesia. Inayah berjalan mondar-mandir di antara bangku-bangku yang berjejer rapi. Sesekali matanya melirik kertas jawaban mereka. Ada yang sudah terisi jawaban, ada juga yang masih kosong!

***
           
             Hari telah larut malam, jam dinding sudah mengarah ke angka sepuluh. Untuk yang kesekian kalinya Inayah menguap menahan kantuk yang mulai datang menyerang. Beberapa lembar jawaban masih tersisa untuk dikoreksi. Kopi susu segelas tersisa sekali teguk saja. Gara-gara tadi menemani Bu Marti menemui tamu, pekerjaan Inayah menjadi agak terbengkalai.

            Setengah sebelas, lembar terakhir terpampang di atas meja. Seketika mata Inayah terbelalak. Ada sesuatu yang janggal pada kertas itu. Bersamaan itu bau harum menyeruak memenuhi ruangan, padahal kertas itu begitu lusuh. 

           Tiba-tiba Inayah merasakan bulu kuduknya meremang ketika semilir angin yang entah masuk dari celah mana, berhembus di telinganya. Suara binatang malam, jangkrik dan katak, berhenti menyenandungkan pujian kepada Sang Pencipta. Yang terdengar malah lolongan anjing yang begitu menyayat jiwa. Seingat Inayah, tak ada tetangga yang memelihara anjing.

            Hati Inayah menjadi tak nyaman. Diputuskannya untuk beranjak dari kursi dan merebahkan tubuh di atas ranjang. Ditariknya selimut menutupi seluruh badan. Dibacanya dalam hati beberapa doa yang dihafal, namun mata yang terpaksa dipejamkan, tetap saja membuat Inayah susah terlelap. Sekelebat bayangan kertas tadi kembali melintas. Mengerikan dan di luar nalar!

***
            
             Suasana jam istirahat begitu riuh. Murid-murid bermain macam-macam permainan. Ada juga yang hanya duduk-duduk bercengkerama di kantin sekolah. Inayah tersenyum menyaksikan pola tingkah mereka. Hari ini Kamis, ibu guru muda itu tengah menjalani ibadah puasa Senin-Kamis. Ia memutuskan untuk tetap berada di dalam kelas, menyiapkan beberapa materi pelajaran untuk jam selanjutnya. 

Bukk!

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Inayah terperanjat karena tidak ada seorangpun murid di dalam kelas. Ia lemparkan pandangan ke penjuru kelas. Kosong. Inayah berdiri dari duduknya. Dengan langkah mengendap-endap, ia dekati sumber suara. Sebuah buku tulis tergeletak di atas lantai. Sedikit ragu, dipungutnya buku itu. Betapa terkejutnya Inayah ketika mengetahui siapa pemilik buku bergambar pemain bola itu. Sebuah nama yang tak asing tertera di halaman sampul. Sebuah nama yang telah…

Suara riuh murid-murid memasuki kelas, mengalihkan perhatian Inayah. Rupanya lonceng tanda berakhirnya jam istirahat telah dibunyikan. Perlahan rasa takut yang sempat menjalar, berlalu dari diri Inayah. 

‘Lindungi kami semua, Ya Allah!’ Inayah melantunkan sebuah doa dalam hati.

***
           
              Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!

           Bel pulang sekolah berbunyi nyaring ketika jam dinding tepat menunjuk di angka satu. Setelah selesai berkemas, para murid melaksanakan doa bersama tanda bersyukur kehadirat-Nya atas ilmu yang telah mereka dapatkan hari ini.

           Lalu satu per satu mereka melenggangkan kaki meninggalkan kelas, hingga tertinggal Hendrik dan Saipul saja. Mereka seolah tengah menunggu sesuatu. Inayah terus saja memperhatikan gerak-gerik mereka.

            “Kalian nunggu apa?” Inayah mencoba bertanya.

            “Nih lagi nungguin si Agung ngemasin tas, Bu Guru,” jawab Hendrik.

            “Agung? Maksud kalian Agung yang mana?” Inayah melemparkan pandangan, hanya ada mereka bertiga di dalam kelas saat itu.

            “Agung Laksono, siapa lagi teman kami yang namanya Agung, kan hanya dia saja, Bu!” ujar Saipul sambil telunjuknya mengarah ke bangku kosong baris depan.

Inayah mengernyitkan dahi tak mengerti. Apa-apaan mereka ini?

            “Kalian jangan bercanda, Agung Laksono kan sudah meninggal!” nada suara Inayah meninggi, seiring debur jantungnya yang memburu.

            “Agung masih hidup, tiap hari dia bersama kita dalam kelas ini, ya kan, Pul?” kalimat Hendrik meminta persetujuan Saipul terdengar jujur, tidak mengada-ngada.

            “Betul, Bu. Hanya saja Agung menjadi pendiam sekarang. Dia memilih duduk sendiri dan meminta Hendrik untuk pindah duduk,” ujar Saipul serius.

Deg!

Jantung Inayah seolah hampir lepas dari tempatnya. Ia teringat kertas jawaban ulangan yang bertuliskan nama Agung Laksono. Ada beberapa bercak noda darah yang telah mongering disana. Inayah juga teringat saat tak ada angin kencang namun benda seberat buku bisa terjatuh dengan sendirinya dari atas meja.

Kejadian pagi itu masih sangat jelas di mata Inayah. Empat puluh hari yang lalu, Inayah mendapati jasad Agung telah terbujur kaku di tepian jalan. Lelaki kecil sang juara kelas itu telah meninggal dunia sebagai korban tabrak lari!(*)
























 

1 comments:

Post a Comment

 
;