Wednesday, 5 February 2014

Yakin Ku Bisa!




"Memulai sesuatu yang besar itu ya baiknya dari yang kecil dulu..." ujar Abang mengomentari keluhanku.

"Kenapa mesti begitu sih?" tanyaku penasaran campur jengkel.

"Mau tahu beneran atau mau tau banget nih?" gantian Abang yang bertanya, sambil mengerlingkan sebelah matanya menggodaku.

"Yeeeeeee!" aku balas dengan menjulurkan lidah ke arahnya.

"Hahaha... sewot nih yeeee..." Abang tergelak melihatku makin sewot.

"Buruan jawab dunk, jangan bikin Adek mati penasaran! Pliiiiiiiiiiiiisss..." kupasang wajah melas.

Abang tersenyum. Lalu sejenak terdiam, menghela nafas. Sebatang rokok yang tinggal separuh, disedotnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara.

Aku berusaha menyabarkan hati menanti jawaban bijaknya seperti yang biasa aku dengar keluar dari mulut Abang setiap kali aku berkonsultasi masalah-masalahku padanya.

"Masih penasaran nih?"

"Banget!"

"Kirain dah lupa..."

Huh!

Aku manyun-manyunkan mulutku dan beranjak meninggalkan Abang. Berlagak ngambek.

"Eit...eit... mau kemana Neng geulis? Koq malah mau kabur toh," Abang menarik pergelangan tanganku.

Kuletakkan kembali pantatku di atas kursi kayu persis disebelah Abang duduk.

"Sini!" Abang menarik dan memutar kursiku sehingga posisi kami sekarang jadi berhadap-hadapan.

"Nona manis..." Abang mencubit hidungku yang pesek ini.

Suka-suka hati dia saja memanggilku dengan macam-macam sebutan. Pasti dalam rangka merayuku.

"Jadi begini lho... mengapa lebih baik memulai suatu usaha dari skala kecil dulu adalah agar kelak ketika usaha kita menjadi besar, maka kita akan ingat masa-masa perjuangan yang dengan susah payah kita rintis."

Aku mulai menyimak. Agaknya Abang mulai serius.

"Dan ketika hal besar sudah kita dapat, kita akan menghargai yang kecil-kecil. Tidak lantas menjadi pongah, apalagi sampai lupa diri..."

"Pongah?" tanyaku spontan.

"Iya... pongah... alias sombong! Banyak sih orang yang menjadi tenar dengan jalan pintas, menghalalkan segala cara karena enggan memeras keringat, dan hasilnya? Hanya sesaat saja mereka di atas. Nggak akan bertahan lama deh."

"Allah itu mewajibkan kita berusaha, dan untuk itu Dia menjanjikan pahala lho. Sedangkan sukses itu hanya sebuah bonus saja..."

Aku mengangguk-angguk.

"Sekarang pilihan ada ditanganmu sendiri, mau yang lewat jelan berkelok-kelok penuh onak duri tapi berpahala... atau via jalan pintas yang gampang tanpa halangan berarti tapi nggak tahan lama..."

Seketika aku bangkit dan bergegas meninggalkan Abang. Aku teringat akan sesuatu. Tak kuhiraukan teriakan Abang memanggil namaku. Aku melesat naik ke lantai dua. Sesampainya aku di kamar, lekas-lekas kukutip seonggok amplop coklat berisi naskah yang sempat menjadi penghuni tong sampah.

'Maaf, karya anda kami tolak!'

Kurang lebih begitulah kesimpulan yang bisa kutangkap manakala kudapati karya yang kukirimkan beberapa waktu lalu pada sebuah redaksi majalah remaja itu, dikirimkan kembali ke alamat rumahku.

Perlahan kubuka amplop dan mengeluarkan isinya. Benda ini yang kutangisi semalam, sebuah naskah yang siang malam kutulis dengan penuh semangat, sampai-sampai jadwal makan dan tidurku menjadi kacau balau, kini dalam genggaman aku tersenyum memandangnya.

Penolakan!

Kujadikan sebuah cambukan dan lecutan. Bagaimanapun aku harus bangkit dari keterpurukan. Betul kata Abang, Allah mewajibkan kita berusaha dan berikhtiar, tentang bagaimana hasilnya nanti, maka biarkan kuasa-Nya yang bicara.

Hemmm...

Aku tersenyum, optimis. Bisa! Aku pasti Bisa! Azzamku dalam hati. (*)

0 comments:

Post a comment

 
;